Semarang, 4 September 2026 – Penemuan kerangka manusia di kawasan tebing atau jurang dekat Jalan Tol Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, membuka kembali misteri hilangnya Mozza Axillia Gunarsa, remaja asal Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, yang tidak diketahui keberadaannya sejak Juni 2025. Kerangka berjenis kelamin perempuan tersebut ditemukan pada Jumat dan kemudian ditangani kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Polisi menduga kerangka tersebut berkaitan dengan Mozza setelah mencocokkan sejumlah ciri dan perkembangan penyelidikan kasus orang hilang yang telah berlangsung lebih dari satu tahun. Meski dugaan awal mengarah kepada Mozza, proses identifikasi tetap diperlukan untuk memastikan identitas secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Penemuan tersebut menjadi perkembangan penting setelah pencarian terhadap Mozza sebelumnya dilakukan di berbagai lokasi tanpa menghasilkan kepastian mengenai keberadaannya.
Lokasi penemuan berada di kawasan Jangli, Kota Semarang, pada area dekat jalan tol dengan kondisi medan berupa tebing dan semak yang tidak mudah terlihat dari jalur utama. Polisi memasang garis pengamanan di sekitar lokasi setelah kerangka ditemukan dan melakukan pemeriksaan untuk mengumpulkan barang maupun petunjuk yang kemungkinan berkaitan dengan identitas korban. Kondisi kerangka menunjukkan jasad telah berada di tempat tersebut dalam waktu yang cukup lama sehingga pemeriksaan forensik menjadi sangat penting. Petugas tidak hanya memeriksa bagian tubuh yang masih dapat dianalisis, tetapi juga memperhatikan benda-benda yang ditemukan di sekitar lokasi. Setiap temuan kemudian dicocokkan dengan informasi mengenai Mozza yang selama ini telah dimiliki penyidik sejak laporan kehilangan diterima.
Mozza diketahui meninggalkan rumahnya di Desa Gebugan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, pada Rabu, 25 Juni 2025 sekitar pukul 10.00 WIB. Sebelum pergi, ia berpamitan kepada orang tuanya melalui pesan WhatsApp dan menyampaikan hendak mengantarkan laptop milik seorang teman di wilayah Semarang. Mozza saat itu berangkat menggunakan sepeda motor Honda Vario 125 berwarna hitam dan setelahnya tidak kembali ke rumah. Keluarga yang kehilangan komunikasi kemudian melakukan pencarian dan melaporkan kejadian tersebut kepada kepolisian. Sejak saat itu, penyidik memeriksa keluarga, teman dekat, serta sejumlah pihak yang dinilai mengetahui aktivitas terakhir Mozza sebelum keberadaannya tidak lagi diketahui.
Dalam proses pencarian selama lebih dari setahun, sejumlah barang milik Mozza sempat ditemukan di wilayah Kota Semarang. Dompet yang berisi identitasnya diketahui ditemukan di kawasan Semarang Utara, sementara telepon seluler yang menjadi salah satu akses penting untuk penelusuran juga berhasil ditemukan setelah sebelumnya dibuang. Polisi kemudian memeriksa sejumlah rekaman kamera pengawas dan menelusuri berbagai informasi yang masuk dari masyarakat. Pencarian bahkan diperluas hingga luar wilayah Jawa Tengah setelah muncul berbagai petunjuk mengenai kemungkinan keberadaan Mozza. Namun, berbagai langkah tersebut belum menghasilkan kepastian hingga akhirnya kerangka manusia ditemukan di kawasan Jangli.
Penyelidikan kasus hilangnya Mozza sebelumnya mendapatkan perhatian lebih luas dengan keterlibatan sejumlah unsur di Polda Jawa Tengah. Penanganan dilakukan melalui pemeriksaan saksi, penelusuran barang bukti, penyisiran lokasi, serta koordinasi lintas wilayah. Salah satu hal yang diperiksa adalah keterangan Mozza sebelum meninggalkan rumah mengenai rencana bertemu atau mengantarkan sesuatu kepada temannya. Dalam penelusuran kepolisian, terdapat keterangan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan alasan yang sebelumnya disampaikan Mozza kepada keluarga. Kondisi tersebut menjadi salah satu bagian yang didalami penyidik untuk merekonstruksi perjalanan Mozza setelah keluar dari rumah pada hari terakhir dirinya diketahui keluarga.
Penemuan kerangka di Jangli membuat penyelidikan kini memasuki tahapan yang jauh lebih penting karena polisi tidak hanya harus memastikan identitas, tetapi juga mengetahui bagaimana korban dapat berada di lokasi tersebut. Pemeriksaan forensik dapat digunakan untuk mencocokkan karakteristik biologis dengan data Mozza maupun keluarganya. Identifikasi melalui DNA menjadi salah satu metode yang dapat memberikan kepastian apabila kondisi fisik jasad sudah tidak memungkinkan pengenalan secara visual. Selain itu, pemeriksaan terhadap benda yang ditemukan bersama kerangka dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai identitas maupun kronologi sebelum kematian. Hasil keseluruhan pemeriksaan tersebut nantinya menjadi dasar bagi penyidik untuk menentukan arah penanganan perkara berikutnya.
Kepolisian juga mendalami kemungkinan adanya unsur pidana di balik penemuan kerangka tersebut. Penyelidikan tidak berhenti pada proses identifikasi karena kondisi dan lokasi ditemukannya jasad perlu dijelaskan melalui rangkaian bukti yang tersedia. Polisi harus mengetahui kapan korban diperkirakan meninggal, bagaimana jasad dapat berada di kawasan tersebut, serta siapa saja yang diketahui berinteraksi dengan korban menjelang hilangnya Mozza. Keterangan saksi yang sebelumnya telah diperoleh dapat diperiksa kembali dan dicocokkan dengan temuan terbaru. Rekonstruksi perjalanan korban menjadi penting untuk menghubungkan aktivitas terakhir Mozza dengan lokasi ditemukannya kerangka lebih dari setahun kemudian.
Perkembangan terbaru kasus ini juga mengarah pada pemeriksaan terhadap orang yang diduga memiliki hubungan dekat dengan Mozza sebelum dirinya dilaporkan hilang. Polisi melakukan pendalaman untuk mengetahui keterlibatan pihak lain dan memastikan rangkaian kejadian yang menyebabkan korban tidak pernah kembali ke rumah. Penanganan perkara membutuhkan kehati-hatian karena setiap dugaan harus didukung barang bukti dan keterangan yang dapat diuji dalam proses hukum. Apabila identitas kerangka dipastikan sebagai Mozza dan ditemukan bukti adanya tindak pidana, kasus yang sebelumnya ditangani sebagai laporan orang hilang dapat berkembang menjadi penyidikan perkara pidana. Seluruh temuan dari lokasi Jangli karena itu memiliki posisi penting dalam mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.
Bagi keluarga, penemuan tersebut menjadi perkembangan besar setelah pencarian berlangsung sejak pertengahan 2025. Selama lebih dari satu tahun, keluarga terus menunggu kepastian sekaligus memberikan berbagai informasi yang dinilai dapat membantu polisi menemukan Mozza. Berbagai laporan masyarakat mengenai kemungkinan keberadaannya juga sempat ditindaklanjuti, tetapi tidak menghasilkan titik terang. Kasus tersebut kembali mendapat perhatian pada pertengahan 2026 ketika kepolisian menegaskan pencarian masih berlangsung dan seluruh petunjuk terus ditelusuri. Penemuan kerangka di Semarang kini memberikan arah baru yang dapat membantu menjawab pertanyaan mengenai keberadaan Mozza selama ini.
Pemeriksaan terhadap kerangka manusia yang ditemukan di kawasan Tol Jangli selanjutnya menjadi kunci untuk memastikan apakah temuan tersebut benar merupakan Mozza Axillia Gunarsa. Kecocokan sejumlah ciri menjadi petunjuk awal, tetapi kepastian identitas tetap membutuhkan proses forensik sebelum kesimpulan resmi dapat diberikan. Pada saat bersamaan, penyidik terus menelusuri kronologi dan kemungkinan keterlibatan pihak lain sehingga perkara tidak berhenti hanya pada identifikasi korban. Penemuan setelah lebih dari setahun sejak Mozza meninggalkan rumah menjadi titik penting dalam penyelidikan panjang yang sebelumnya belum memperoleh kepastian. Hasil pemeriksaan forensik dan pengembangan penyidikan diharapkan dapat memberikan kejelasan kepada keluarga sekaligus mengungkap secara lengkap rangkaian peristiwa yang berakhir dengan ditemukannya kerangka manusia di kawasan Jangli, Semarang.





