Jakarta, 20 September 2026 – Pemerintah mendorong Indonesia memperkuat posisi sebagai basis produksi dan ekspor baterai kendaraan elektrifikasi dengan mempelajari perjalanan panjang Toyota membangun industri otomotif berdaya saing global. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menilai pengalaman Toyota dalam penguasaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia, inovasi, dan penguatan rantai pasok dapat menjadi referensi bagi pengembangan industri nasional. Pemerintah ingin Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan, tetapi semakin terintegrasi dalam rantai nilai otomotif dunia. Transformasi menuju kendaraan elektrifikasi dinilai membuka peluang memperbesar nilai tambah industri di dalam negeri. Salah satu sasaran berikutnya adalah menjadikan baterai kendaraan elektrifikasi produksi Indonesia sebagai produk ekspor.
Pengalaman Toyota menjadi perhatian setelah perusahaan tersebut membangun kegiatan produksi di Indonesia selama puluhan tahun dan mengembangkan jaringan pemasok lokal. Toyota menyebut total investasi yang telah ditanamkan selama 55 tahun mencapai sekitar Rp100 triliun dengan ekosistem yang melibatkan lebih dari 360.000 tenaga kerja di sektor produksi, rantai pasok, distribusi hingga layanan purnajual. Skala tersebut menunjukkan bagaimana investasi jangka panjang dapat membentuk kemampuan manufaktur sekaligus memperkuat basis ekspor. Pemerintah ingin proses serupa berkembang pada industri kendaraan elektrifikasi yang saat ini memasuki fase pertumbuhan baru. Pengembangan teknologi dan peningkatan kemampuan tenaga kerja menjadi bagian yang dinilai tidak dapat dipisahkan dari strategi tersebut.
Kemampuan ekspor industri otomotif Indonesia juga telah terbentuk melalui produksi kendaraan konvensional maupun elektrifikasi. Sepanjang 2025, Toyota Indonesia mengekspor 298.457 kendaraan atau meningkat sekitar 8 persen dibandingkan 276.089 unit pada tahun sebelumnya. Secara kumulatif, sejak 1987 hingga akhir 2025, ekspor kendaraan Toyota dari Indonesia mencapai lebih dari 3,15 juta unit ke lebih dari 100 negara. Kendaraan elektrifikasi buatan Indonesia juga mulai mendapatkan pasar di luar negeri dengan ekspor 22.868 unit selama 2025. Pemerintah melihat fondasi tersebut dapat diperluas menuju komponen bernilai tambah tinggi seperti baterai.
Langkah konkret pengembangan baterai dilakukan melalui kemitraan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. atau CATL. Kerja sama yang diumumkan pada April 2026 tersebut melibatkan investasi sekitar Rp1,3 triliun untuk meningkatkan kemampuan produksi baterai kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Pengembangan tidak hanya mencakup perakitan paket baterai, tetapi juga diarahkan pada produksi sel dan modul baterai yang sebelumnya masih diimpor. Pendalaman produksi di dalam negeri diharapkan meningkatkan kandungan lokal sekaligus memberikan ruang bagi tenaga kerja Indonesia untuk menguasai teknologi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Indonesia pun dipersiapkan menjadi basis produksi sekaligus ekspor baterai untuk pasar global.
Rencana tersebut menempatkan Toyota Indonesia sebagai anak perusahaan Toyota pertama di Asia Tenggara yang diproyeksikan melakukan ekspor baterai ke pasar global. Kegiatan ekspor direncanakan mulai pada paruh kedua 2026. Produk yang dikirim tidak hanya berupa baterai yang telah terpasang pada kendaraan elektrifikasi, tetapi juga baterai dalam bentuk komponen. Strategi ini membuat aktivitas ekspor otomotif Indonesia berpotensi berkembang dari kendaraan utuh menuju komponen utama elektrifikasi. Pada saat yang sama, produksi lokal diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap impor komponen baterai.
Pemerintah memandang peluang industri baterai tidak berhenti pada proses produksi. Ekosistem yang ingin dikembangkan mencakup rantai pasok dari hulu hingga hilir, komponen kendaraan, pengembangan tenaga kerja, hingga kegiatan daur ulang. Indonesia memiliki sumber daya dan basis manufaktur yang dapat digunakan untuk memperbesar perannya dalam rantai nilai kendaraan elektrifikasi dunia. Penguatan industri tersebut juga membutuhkan kemampuan teknologi dan standar produksi yang mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional. Karena itu, kolaborasi pemerintah dan industri diarahkan untuk meningkatkan daya saing manufaktur sekaligus memperluas tujuan ekspor.
Peralihan menuju elektrifikasi sekaligus menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menaikkan posisi industri otomotif dari sekadar pusat perakitan menjadi produsen komponen strategis. Pengalaman membangun basis produksi dan ekspor kendaraan selama puluhan tahun menjadi fondasi untuk memasuki tahap tersebut. Baterai menjadi salah satu komponen bernilai tinggi yang dapat memperbesar kontribusi industri otomotif terhadap ekspor nasional apabila produksinya semakin terlokalisasi. Pemerintah karena itu mendorong investasi, transfer kemampuan teknologi, penguatan pemasok lokal, dan peningkatan kompetensi tenaga kerja berjalan secara bersamaan. Target akhirnya adalah membentuk industri kendaraan elektrifikasi yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga mampu bersaing sebagai bagian dari rantai pasok global.





