Makassar, 27 September 2026 – Peringatan Hari Pariwisata Dunia menjadi momentum bagi Kota Makassar, Sulawesi Selatan, untuk memperkuat pengembangan pariwisata bahari sebagai salah satu daya tarik utama daerah. Posisi Makassar yang memiliki kawasan pesisir serta gugusan pulau memberikan potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi unggulan. Pengembangan tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga pada penciptaan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir. Potensi laut diharapkan semakin terintegrasi dengan agenda pembangunan pariwisata kota.
Wisata bahari Makassar memiliki beragam pilihan yang dapat ditawarkan kepada wisatawan, mulai dari kawasan pantai hingga pulau-pulau di sekitar kota. Pulau Samalona, Kodingareng Keke, Barrang Lompo dan sejumlah pulau lainnya memiliki karakter yang dapat dikembangkan melalui aktivitas wisata berbasis kelautan. Keindahan pantai, panorama bawah laut, aktivitas masyarakat kepulauan serta kuliner menjadi bagian dari potensi tersebut. Keberagaman ini membuka peluang bagi Makassar untuk memperluas pilihan destinasi selain wisata perkotaan.
Pengembangan pariwisata bahari juga membutuhkan peningkatan kualitas sarana dan akses menuju destinasi. Transportasi laut, fasilitas keselamatan, kebersihan kawasan, informasi wisata serta kenyamanan pengunjung menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan. Pengelolaan yang baik diharapkan membuat wisatawan merasa aman ketika berkunjung ke pulau maupun kawasan pesisir. Pada saat yang sama, pembangunan fasilitas perlu mempertimbangkan daya dukung lingkungan agar tidak merusak ekosistem laut.
Keterlibatan masyarakat menjadi unsur penting dalam pengembangan destinasi bahari secara berkelanjutan. Warga pesisir dan kepulauan dapat memperoleh peluang ekonomi melalui usaha kuliner, penginapan, penyewaan perahu, jasa pemandu, kerajinan hingga berbagai produk ekonomi kreatif. Dengan demikian, peningkatan aktivitas pariwisata dapat memberikan dampak langsung terhadap pendapatan masyarakat. Pemberdayaan juga diperlukan agar warga tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan industri pariwisata di wilayahnya.
Aspek pelestarian lingkungan turut menjadi perhatian karena kualitas ekosistem merupakan modal utama wisata bahari. Kebersihan pantai, pengelolaan sampah, perlindungan terumbu karang serta edukasi kepada pengunjung perlu berjalan bersama dengan promosi destinasi. Pertumbuhan kunjungan wisatawan yang tidak diimbangi pengelolaan lingkungan dapat menimbulkan tekanan terhadap kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Karena itu, prinsip pariwisata berkelanjutan menjadi dasar penting dalam setiap rencana pengembangan.
Hari Pariwisata Dunia juga menjadi kesempatan untuk memperkuat promosi Makassar sebagai pintu masuk wisata di kawasan Indonesia timur. Keberadaan fasilitas transportasi udara dan laut memberikan keuntungan bagi kota tersebut untuk menghubungkan wisatawan dengan berbagai destinasi di Sulawesi Selatan. Potensi wisata bahari dapat dipadukan dengan kuliner, budaya, sejarah dan kegiatan ekonomi kreatif sehingga pengalaman wisatawan menjadi lebih beragam. Kolaborasi pemerintah, pelaku usaha dan komunitas diperlukan untuk membangun paket wisata yang menarik sekaligus kompetitif.
Pengembangan wisata bahari diharapkan mampu memperkuat posisi sektor pariwisata dalam perekonomian Makassar tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Momentum Hari Pariwisata Dunia dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran bahwa keberhasilan destinasi tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari manfaat yang diterima masyarakat dan kondisi lingkungan yang tetap terjaga. Dengan pengelolaan terencana, kawasan pesisir dan kepulauan Makassar memiliki peluang berkembang menjadi destinasi bahari yang semakin dikenal. Upaya tersebut sekaligus dapat memperkuat citra Makassar sebagai salah satu kota wisata utama di kawasan timur Indonesia.





