Samarinda, 29 Agustus 2026 – Korem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN) menggelar Salat Istisqa sebagai ikhtiar menghadapi kondisi cuaca kering dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Kalimantan Timur. Pelaksanaan ibadah tersebut menjadi bagian dari upaya spiritual yang dilakukan di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran akibat minimnya curah hujan. Salat Istisqa dilaksanakan dengan melibatkan personel TNI sebagai bentuk doa bersama agar hujan segera turun dan kondisi lingkungan kembali lebih lembap. Langkah tersebut berjalan berdampingan dengan berbagai upaya penanganan dan pencegahan karhutla yang dilakukan aparat bersama pemerintah daerah serta unsur terkait. Kondisi kemarau menjadi perhatian karena lahan dan vegetasi yang mengering dapat lebih mudah terbakar apabila terdapat sumber api.
Ancaman karhutla di Kalimantan Timur membutuhkan kesiapsiagaan dari berbagai pihak mengingat karakteristik wilayahnya memiliki kawasan hutan dan lahan yang cukup luas. Ketika kondisi cuaca panas dan kering berlangsung dalam periode tertentu, potensi munculnya titik api dapat meningkat, terutama di kawasan yang memiliki vegetasi mudah terbakar. Api yang tidak segera dikendalikan juga dapat meluas akibat kondisi angin dan tingkat kekeringan lahan. Selain menyebabkan kerusakan lingkungan, kebakaran dapat menghasilkan asap yang mengganggu kualitas udara serta aktivitas masyarakat. Karena itu, pencegahan menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi kemungkinan kebakaran berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Pelaksanaan Salat Istisqa oleh jajaran Korem 091/ASN mencerminkan ikhtiar yang dilakukan melalui pendekatan keagamaan di tengah situasi yang membutuhkan turunnya hujan. Salat tersebut merupakan bentuk permohonan kepada Tuhan agar diberikan curah hujan yang dapat membantu mengatasi kondisi kekeringan. Bagi masyarakat yang terdampak musim kering, hujan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memiliki peran dalam menjaga kondisi lahan dan lingkungan. Curah hujan yang memadai dapat membantu meningkatkan kelembapan vegetasi serta mengurangi tingkat kekeringan pada permukaan tanah. Namun, upaya tersebut tetap perlu disertai langkah teknis dan kesiapsiagaan lapangan untuk menghadapi potensi kebakaran.
Penanganan karhutla sendiri tidak dapat hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul. Pencegahan melalui pemantauan wilayah, deteksi dini, patroli, edukasi masyarakat, serta pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko. Aparat di lapangan perlu bergerak cepat ketika ditemukan titik api agar kebakaran tidak menyebar ke area yang lebih luas. Koordinasi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, petugas pemadam, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menghadapi kondisi tersebut. Dengan keterlibatan berbagai unsur, respons terhadap potensi karhutla dapat dilakukan secara lebih cepat dan terkoordinasi.
Kondisi cuaca kering juga dapat memberikan dampak terhadap aktivitas masyarakat apabila kualitas udara mulai mengalami penurunan akibat asap kebakaran. Paparan asap dalam jumlah tinggi dapat mengganggu kenyamanan masyarakat dan berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan. Karena itu, pengendalian sumber kebakaran harus menjadi prioritas ketika terdapat indikasi peningkatan titik api. Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya api di kawasan yang vegetasinya sedang kering. Kesadaran masyarakat menjadi bagian penting dari strategi pencegahan karena sebagian kejadian kebakaran dapat dipicu oleh aktivitas manusia.
Selain persoalan lingkungan dan kesehatan, karhutla juga dapat mengganggu berbagai kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat. Asap tebal dapat mengurangi jarak pandang sehingga berpengaruh terhadap mobilitas dan keselamatan perjalanan. Aktivitas di luar ruangan juga dapat terganggu apabila kualitas udara memburuk dalam waktu yang cukup lama. Pada kawasan yang memiliki aktivitas perkebunan dan pertanian, kebakaran dapat menimbulkan kerugian terhadap lahan maupun sumber penghasilan masyarakat. Oleh sebab itu, upaya pencegahan dan penanggulangan harus dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan dampak yang mungkin muncul di berbagai sektor.
Korem 091/ASN bersama unsur terkait juga memiliki peran dalam menjaga kesiapan personel menghadapi kemungkinan terjadinya karhutla. Kesiapan tersebut mencakup kemampuan melakukan pemantauan wilayah, mendukung operasi pemadaman, serta membantu masyarakat ketika kondisi membutuhkan penanganan lebih lanjut. Dalam situasi kebakaran, kecepatan informasi menjadi penting agar pengerahan personel dan peralatan dapat dilakukan secara efektif. Pemantauan terhadap kawasan rawan juga diperlukan untuk mengetahui perkembangan kondisi lapangan sebelum kebakaran meluas. Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem penanganan yang mengutamakan pencegahan sekaligus respons cepat terhadap setiap kejadian.
Gelar Salat Istisqa oleh Korem 091/ASN pada akhirnya menjadi salah satu bentuk ikhtiar menghadapi kondisi kering dan ancaman karhutla di Kalimantan Timur. Doa untuk memohon hujan dilakukan bersamaan dengan kebutuhan untuk memperkuat kesiapsiagaan serta pencegahan kebakaran di wilayah yang rawan terdampak. Turunnya hujan diharapkan dapat membantu mengurangi tingkat kekeringan, tetapi pengendalian karhutla tetap membutuhkan kewaspadaan dari aparat dan masyarakat. Setiap potensi titik api perlu segera ditangani agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas dan menghasilkan dampak berkepanjangan. Melalui perpaduan ikhtiar spiritual, pemantauan lapangan, koordinasi antarlembaga, dan partisipasi masyarakat, upaya menghadapi ancaman karhutla di Kalimantan Timur diharapkan dapat dilakukan secara lebih optimal.





