Jakarta, 23 Mei 2026 – Hasan Nasbi mendorong mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan untuk memiliki pola pikir yang lebih kritis dalam menghadapi perkembangan disrupsi digital yang terus mengubah berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dalam kegiatan diskusi bersama mahasiswa, ia menekankan bahwa perkembangan teknologi informasi, media sosial, dan kecerdasan buatan telah membawa perubahan besar terhadap pola komunikasi, politik, hingga cara masyarakat menerima informasi setiap hari. Menurutnya, generasi muda saat ini berada di tengah arus informasi yang sangat cepat sehingga kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu keterampilan paling penting untuk dimiliki agar tidak mudah terpengaruh hoaks, manipulasi opini, maupun polarisasi digital. Pengamat pendidikan menilai isu literasi digital memang semakin penting dibahas di lingkungan kampus karena mahasiswa menjadi kelompok yang sangat aktif mengakses dan menyebarkan informasi di ruang digital.
Dalam pemaparannya, Hasan Nasbi disebut menyoroti bagaimana teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memahami realitas sosial dan politik. Informasi kini dapat menyebar dalam hitungan detik tanpa melalui proses verifikasi yang memadai, sehingga masyarakat sering kali kesulitan membedakan fakta dan opini yang sengaja dibentuk untuk kepentingan tertentu. Pengamat komunikasi menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat kemampuan analisis dan verifikasi informasi menjadi sangat penting, terutama bagi mahasiswa ilmu sosial dan politik yang nantinya akan banyak terlibat dalam isu kebijakan publik, media, dan komunikasi masyarakat. Di era digital modern, kemampuan berpikir kritis tidak lagi hanya berkaitan dengan akademik, tetapi juga menjadi kebutuhan dasar untuk menghadapi derasnya arus informasi yang sering kali penuh kepentingan.
Selain membahas tantangan informasi digital, mahasiswa juga diajak memahami dampak besar kecerdasan buatan dan perkembangan teknologi terhadap dunia kerja serta kehidupan sosial di masa depan. Banyak profesi kini mulai mengalami perubahan akibat otomatisasi dan transformasi digital yang bergerak sangat cepat. Pengamat teknologi pendidikan menjelaskan bahwa generasi muda dituntut tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir adaptif dan analitis agar mampu bersaing di tengah perubahan industri global. Kampus dinilai memiliki peran penting dalam membentuk mahasiswa yang tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami dampak sosial, etika, dan politik dari perkembangan digital yang terjadi saat ini.
Di sisi lain, fenomena disrupsi digital juga membawa tantangan besar terhadap kehidupan demokrasi dan ruang publik modern. Media sosial kini menjadi arena utama pembentukan opini masyarakat yang sering kali dipenuhi informasi emosional dan konten viral. Pengamat sosial menilai kondisi ini membuat masyarakat semakin rentan terhadap polarisasi karena algoritma digital cenderung memperkuat preferensi dan sudut pandang tertentu. Oleh sebab itu, kemampuan berpikir kritis dan terbuka terhadap berbagai perspektif dinilai menjadi fondasi penting agar generasi muda mampu menjaga kualitas diskusi publik dan tidak mudah terjebak dalam arus provokasi digital.
Dorongan Hasan Nasbi kepada mahasiswa FISIP Unpas menunjukkan bahwa tantangan generasi muda di era digital tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan mental dan intelektual dalam menghadapi perubahan zaman. Pengamat pendidikan menilai kampus harus menjadi ruang yang mendorong budaya berpikir kritis, diskusi terbuka, dan kemampuan memahami informasi secara mendalam di tengah banjir konten digital yang semakin kompleks. Dengan kemampuan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi generasi yang lebih bijak, adaptif, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan ruang digital modern.






