Jakarta, 21 Mei 2026 – Pemerintah Kota Tangerang menyatakan dukungannya terhadap optimalisasi program PP Tunas sebagai langkah memperkuat perlindungan anak di tengah meningkatnya risiko dunia digital yang kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi dan penggunaan internet yang masif disebut membawa tantangan baru bagi anak-anak, mulai dari paparan konten negatif, cyberbullying, kecanduan gadget, hingga potensi eksploitasi digital yang semakin sulit dikendalikan. Pengamat pendidikan dan perlindungan anak menilai situasi ini membuat pemerintah daerah harus bergerak lebih aktif dalam membangun sistem pengawasan dan edukasi digital yang lebih kuat bagi keluarga maupun lingkungan sekolah. Pemkot Tangerang menilai kolaborasi antara pemerintah, orang tua, sekolah, dan komunitas menjadi faktor penting agar anak-anak tetap dapat memanfaatkan teknologi secara aman dan sehat di era digital modern.
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan perangkat digital di kalangan anak meningkat sangat cepat seiring perkembangan platform media sosial, game online, hingga pembelajaran berbasis internet. Banyak anak kini sudah terbiasa menggunakan smartphone dan media digital sejak usia dini, bahkan untuk aktivitas harian seperti belajar, hiburan, dan komunikasi. Namun di balik kemudahan tersebut, pengamat sosial menilai masih banyak orang tua yang belum memiliki pemahaman cukup mengenai risiko digital yang dihadapi anak. Konten kekerasan, penipuan online, perundungan digital, hingga penyalahgunaan data pribadi menjadi ancaman yang dinilai semakin nyata dan sulit diawasi apabila tidak ada pendampingan yang tepat. Karena itu, program seperti PP Tunas dianggap penting untuk memperkuat literasi digital sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai keamanan anak di ruang digital.
Pemkot Tangerang juga disebut terus mendorong berbagai kegiatan edukasi yang melibatkan sekolah, guru, dan orang tua agar lebih memahami pola interaksi anak dengan teknologi modern. Pengamat pendidikan menjelaskan bahwa pendekatan perlindungan anak saat ini tidak lagi cukup hanya melalui pengawasan langsung, tetapi juga harus disertai edukasi mengenai etika digital, privasi online, dan penggunaan media sosial yang sehat. Banyak kasus yang melibatkan anak di dunia maya terjadi karena kurangnya pemahaman mengenai bahaya berbagi informasi pribadi atau berinteraksi dengan orang asing di internet. Oleh sebab itu, peningkatan literasi digital sejak usia dini dinilai menjadi langkah penting untuk membangun generasi yang lebih siap menghadapi perkembangan teknologi di masa depan.
Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan, algoritma media sosial, dan konten digital yang semakin agresif membuat tantangan perlindungan anak menjadi lebih kompleks dibanding beberapa tahun sebelumnya. Anak-anak kini lebih mudah terpapar berbagai tren internet yang belum tentu sesuai dengan usia mereka. Pengamat teknologi menjelaskan bahwa sistem rekomendasi digital modern mampu membuat pengguna, termasuk anak-anak, menghabiskan waktu lebih lama di depan layar tanpa disadari. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi kesehatan mental, kemampuan sosial, hingga pola belajar anak apabila tidak diimbangi aktivitas dan pengawasan yang sehat. Karena itu, dukungan pemerintah daerah terhadap program perlindungan digital anak dinilai menjadi langkah penting dalam menghadapi perubahan perilaku masyarakat di era teknologi modern.
Meningkatnya perhatian terhadap keamanan anak di dunia digital menunjukkan bahwa perlindungan generasi muda kini tidak lagi hanya berkaitan dengan lingkungan fisik, tetapi juga ruang virtual yang terus berkembang sangat cepat. Pengamat perlindungan anak menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama agar anak-anak tetap dapat menikmati manfaat teknologi tanpa harus terjebak dalam berbagai risiko digital yang berbahaya. Dengan dukungan program seperti PP Tunas dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi digital, diharapkan lingkungan digital yang lebih aman dan sehat bagi anak-anak dapat terus dibangun di masa mendatang.






